Pengantar Bisnis, Etika Bisnis & tanggung jawab perusahaan

thumbnail
BAB II
PENGANTAR BISNIS


2.1.   Pengertian Bisnis
‘bisnis’ berasal dari kata dalam bahasa inggris ‘business’, yang berasal dari kata ‘busy’ , yang berarti sibuk. jadi bila melihat pola bahasanya, kata ‘business’ bisa diartikan sebagai kesibukan. pengertian tersebut mungkin tidak tepat bila digunakan sekarang ini karena kata ‘bisnis’ diasosiasikan sebagai suatu aktivitas ekonomi.
Jeff Madura (2006), juga mendefinisikan bisnis adalah suatu organisasi, badan usaha atau perusahaan yang menyediakan barang atau jasa yang diinginkan oleh konsumen. Tujuan suatu bisnis adalah melayani kebutuhan konsumen yang dilakukan oleh orang-orang (dalam hal ini pemilik) yang mencari keuntungan.  Orang-orang yang membuat sebuah bisnis melihat kesempatan untuk membuat produk yang belum  ditawarkan oleh perusahaan (bisnis) lain. Dengan menyediakan suatu produk yang diinginkan oleh konsumen diharapkan mereka dapat memperoleh profit (keuntungan).
Motif sebuah bisnis pada dasarnya adalah untuk memperoleh keuntungan dengan cara menyediakan produk yang dibutuhkan konsumen. Akan tetapi ada juga suatu organisasi atau badan usaha yang didirikan bukan untuk mencari keuntungan. Organisasi yang demikian disebut organisasi Nirlaba, yaitu sebuah organisasi yang melayani kebutuhan khusus dan tidak berniat mencari keuntunga, misalnya, tempat ibadah.

Secara singkat, bisnis adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan nilai suatu barang atau jasa yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendapatkan keuntungan bagi dirinya atau organisasi, melalui proses transaksi.

2.2.   Fungsi Bisnis
Bisnis memiliki fungsi-fungsi tertentu dalam kedudukannya di masyarakat. Sebuah organisasi bisnis tidak mungkin berdiri sendiri tanpa mempedulikan fungsinya bagi lingkungan tempat bisnis itu berdiri. Fungsi bisnis tersebut dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu fungsi mikro dan fungsi makro, yaitu:
a.       Fungsi mikro
Fungsi mikro adalah pihak-pihak yang berkepentingan langsung terhadap proses penciptaan nilai perusahaan, yaitu:
·         Pekerja/karyawan
Karyawan memiliki input yang berharga bagi perusahaan dan memiliki kepentingan yang berbeda dengan manajer. Kalau karyawan mementingkan untuk mendapatkan upah atau gaji yang layak bagi kinerjannya, sementara manajer menginginkan adanya kinerja yang tinggi dari para karyawannya.
·         Dewan komisaris
Dewan komisaris adalah sekumpulan orang-orang yang mewakili para pemegang saham, yang memiliki kedudukan yang independen terhadap manajemen dan kadang-kadang mereka bisa meminta manajemen untuk melakukan perubahan-perubahan.
·         Pemegang saham
Para pemegang saham memiliki kepentingan dan tanggung jawab tertentu terhadap perusahaan sebesar saham yang mereka miliki dalam perusahaan tersebut.
b.      Fungsi makro
Fungsi makro adalah pihak-pihak yang terlibat secara tidak langsung dalam pembentukan dan pengendalian bisnis, yaitu:
·         Masyarakat sekitar perusaahaan
Keberadaan perusahaan diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar seperti pemberian santunan, beasiswa, rekrutmen karyawan dan pengendalian lingkungan.
·         Bangsa dan negara
Tanggung jawab perusahaan terhadap bangsa dan negara diwujudkan dalam kewajiban membayar pajak.

2.3.   Stakeholders dalam sebuah bisnis
Seperti pembahasan sebelumnya, ternyata setiap bisnis pasti memiliki pihak-pihak yang berkepentingan dengan adannya bisnis tersebut. Pihak-pihak tersebut adalah stakeholders. Ada 5 tipe stakeholder yang terlibat dalam sebuah bisnis (Madura, 2006), yaitu:
1.      Pemilik
Setiap bisnis berasal dari sebuah ide yang dimiliki oleh satu atau lebih entrepreneur untuk menghasilkan sebuah produk. Pada awalnya mungkin hanya satu orang saja sebagai pemilik namun seiring perkembangan bisnisnya, orang tersebut bisa saja mengundang orang lain untuk melakukan investsi dan menjadi pemilik kedua. Dengan demikian, pemilik kedua akan mendapatkan sertifikat kepemilikan (saham) perusahaan, dan akan menerima keuntungan yang disebut deviden.
2.      Kreditor
Kreditor adalah institusi keuangan (bank) yang dapat menyediakan dana bagi perusahaan yang membutuhkan pinjaman keuangan. Perusahaan harus membayar bunga jika meminjam dana dari bank ini.
3.      Karyawan
Dalam hal tanggung jawab pengelolaan tugas karyawan lain dan membuat keputusan-keputusan bisnis yang penting, maka manajer adalah yang dimaksud. Tujuan manajer adalah meningkatkan nilai perusahaan.
4.      Supplier
Setiap perusahaan pasti membutuhkan material untuk menjalankan prosses produksinya. Untuk itu sebuah perusahaan perlu sebuah penyedia bagi meterial yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produksinya.
5.      Konsumen
Suatu perusahaan tidak dapat bertahan lama tanpa konsumen sebagai pengguna produk yang mereka hasilkan. Untuk itu sebuah perusahaan harus dapat menarik konsumennya, dengan cara membuat produk yang sesuai dengan harapan konsumen dan dengan harga yang terjangkau dan bukan hanya menarik konsumen tetapi juga mengelola dan mempertahankan konsumennya.

2.4.   Sumber dana yang diperlukan dalam bisnis
Adapun faktor-faktor yang dibutuhkan dalam proses produksi sebuah perusahaan adalah (Madura 2006):
1.      Sumber daya alam
SDA adalah sumber-sumber daya yang dapat digunakan dalam bentuk aslinya, misalnya tanah. Bisnis pertanian sangat tergantung pada sumber daya alam ini unutk menanam benih. Sedangkan bisnis yang lain, tanah digunakan sebagai tempat untuk menjalankan proses produksinya.
2.      Sumber daya manusia
SDM adalah manusia yang dapat menjalankan pekerjaan untuk sebuah bisnis. Kontribusi manusia dalam proses produksi bisa kemampuan fisik, misalnya untuk menjalankan mesin dan lain-lain. Serta kemampuan mental, misalnya untuk memikirkan perubahan-perubahan yang doperlukan dalam bisnis dan untuk memotivasi pekerja lain.
3.      Madal
Modal terdiri dari mesin, peralatan, perlengkapan dan fasilitas fisik yang digunakan dalam sebuah bisnis. Pada tahun-tahun terakhir, teknologi ternyata mampu membuat bisnis mampu menggunakan modalnya dengan efektif, misalnya: teknologi informasi, dan e-business yaitu bisnis yang dijalankan melalui akses internet.
4.      Kewirausahaan
Kewirausahaan adalah penciptaan ide bisnis dan kemauan untuk mengambil resiko; tindakan untuk menciptakan, mengorganisasi dan mengelola sebuah bisnis. Orang yang bertindak dalam aktivitas tersebut disebut wirausahawan.
   
2.5.   Lingkungan bisnis
Sebuah perusahaan umumnya sangat tergantung dengan lingkungannya. Bahkan setelah sebuah perusahaan didirikan, maka pemilik dan pengelola harus tetap memantau lingkungan supaya dapat mengantisipasi bagaimana permintaan dan kemungkinan perubahan biaya produksi. Limgkungan bisnis terdiri dari:
1.      Lingkungan sosial
Lingkungan sosial termasuk demografi, dan preferensi konsumen untuk menunjukkan kecenderungan sosial yang di tampilkan oleh sebuah bisnis. Demografi sendiri berarti karakteristik populasi manusia atau populasi segmentasi yang spesifik.
2.      Lingkungan industri
Lingkungan industri menyatakan suatu kondisi di dalam perusahaan. Kondisi masing-masing perusahaan akan bervariasi sesuai dengan permintaan dan persaiangan. Keuntungan akan diperoleh oleh industri yang memiliki tingkat permintaan yang tinggi untuk produk yang dihasilkan. Persaingan yang ketat menguntungkan konsumen karena mereka akan mendapatkan harga yang relatif rendah dari perusahaan yang bersiang, sementara dari sisi perusahaan, persaingan mengakibatkan rendahnya pendapatan dan tentu saja keuntungannya.
3.      Lingkungan ekonomi
Lingkungan ekonimi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kinerja bisnis. Ketika ekonomi kuat, lapangan kerja tinggi dan tingkat kompensasi pada karyawan juga meningkat. Sementara, daya beli masyarakat yang tinggi membuat mereka, mampu membeli produk yang ditawarakan perusahaan. Pada akhirnya, perusahaan akan mendapatkan untung yang tinggi dan mampu mengembangkan usahanya, melakukan rekrutmen tenaga kerja. Sebaliknya pada kondisi ekonomi yang lemah, perusahaan akan cenderung melakukan PHK pada karyawan dan tidak mampu memberi kompensasi yang tinggi, sehingga daya beli masyarakat terhadap produk yang ditawarkan menurun dan mengakibatkan perusahaan rugi.
4.      Lingkungan global
Lingkungan global akan mempengaruhi kinerja perusahaan baik secara langsung maupun tidak. Pada perusahaan yang memiliki hubungan dagang, baik pembelian ataupun penjualan akan sangat tergantung pada situasi global. Sedangkan bagi perusahaan yang tidak memiliki hubungan dagang dengan negara lain tetap harus mampu menilai kondisi lingkungan global untuk mewaspadai adanya pesaing yang datang dari luar negeri. Selain mempengaruhi kondisi dalam perusahaan, lingkungan global juga dapat mempengaruhi kondisi ekonomi lokal. Jika kondisi ekonomi di luar negeri lemah, maka industri di negara tersebut juga akan mengalami penurunan dalam hal keuntungan yang diraih.

2.6.   Tipe-tipe keputusan bisnis
Setelah memperhatikan fungsi, sumber daya, stakeholder, dan lingkungan bisnisnya, seorang pengusaha mau tidak harus membuat keputusan-keputusan untuk dapat menjalankan perusahaan dengan baik. Dalam sebuah bisnis setidaknya ada 3 tipe pengambilan keputusan yang umumnya diambil, yaitu:
1.      Manajemen
Sumber daya manusia dan sumber daya lainnya, mesin dan lain-lain.
2.      Pemasaran
Mengenai produk dikembangkan, harga, distribusi dan program promosi yang akan dijalankan untuk mengenalkan produk tersebut pada konsumen.
3.      Keuangan
Meliputi bagaimana perusahaan memperoleh dana dan penggunaan dana yang dimiliki untuk operasional bisnis. 

BAB III
ETIKA BISNIS DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN


3.1.   Definisi etika bisnis
Etika berasal dari kata Yunani ethos yang mengandung arti yang cukup luas yaitu, adat, kebiasaan, akhlak, watak, perasaan, sikap dan cara berpikir.  Etika bisnis yaitu pengetahuan tentang tata cara ideal pengetahuan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku  secara universal dan secara ekonomi/sosial, dan tujuan bisnis (muslich, 1998:4).

3.2.   Prinsip – Prinsip Etika Bisnis
Etika bisnis memiliki prinsip-prinsip yang harus ditempuh perusahaan untuk mencapai tujuannya dan harus dijadikan pedoman agar memiliki standar baku yang mencegah timbulnya ketimpangan dan mengandung etika normal sebagai standar kerja atau operasi perusahaan. Muslich (1998: 31-33) mengemukakan prinsip-prinsip etika bisnis sebagai berikut:
1.      Prinsip otonomi
Prinsip otonomi mengandung bahwa perusahaan secar bebas memiliki wewenang sesuai dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya dengan visi dan misi yang dimilikinya. Kebijakan yang diambil perusahaan harus diarahkan untuk pengembangan visi dan misi perusahaan ynag berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan karyawan dan komunitasnya.
2.      Prinsip kejujuran
Kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam mendukung keberhasilan perusahaan. Kejujuran harus diarahkan pada semua pihak, baik internal maupun eksternal perusahaan. Jika prinsip kejujuran ini dapat dipegang teguh oleh perusahaan, maka akan dapat meningkatkan kepercayaan dari lingkungan perusahaan tersebut.
3.      Kesatuan (Unity)
Adalah kesatuan sebagaimana terefleksikan dalam konsep yang memadukan keseluruhan aspek aspek kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, politik,sosial menjadi keseluruhan yang homogen,serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh.
4.      Kehendak Bebas (Free Will)
Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis,tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif.Kepentingan individu dibuka lebar.Tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya.
5.      Prinsip keadilan / Keseimbangan (Equilibrium)
Perusahaan harus bersikap adil kepada pihak-pihak yang terkait dengan sistem bisnis. Contohnya, upah yang adil kepada karywan sesuai kontribusinya, pelayanan yang sama kepada konsumen, dan lain-lain.
6.      Prinsip hormat pada diri sendiri
Perlunya menjaga citra baik perusahaan tersebut melalui prinsip kejujuran, tidak berniat jahat dan prinsip keadilan.
7.      Tanggung jawab (Responsibility)
Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban dan akuntabilitas. untuk memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertanggungjawabkan tindakannya. secara logis prinsip ini berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan bertanggungjawab atas semua yang dilakukannya.
  
3.3.   Tanggung jawab sosial
Dalam membuat dan memasarkan produk, sebuah perusahaan memiliki tanggung jawab sosial, sebagai pengetahuan perusahaan mengenai bagaimana keputusan bisnisnya dapat mempengaruhi masyarakat (Madura, 2006). Tanggung jawab perusahaan meliputi:
1.      Tanggung jawab kepada konsumen
Dalam hal tanggung jawb kepada konsumen, perusahaan harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut (madura, 2006):
a.       Tanggung jawab dalam pelaksanaan produksi
Produk yang dibuat harus diberikan jaminan keselamatan kepada konsumen. Produk yang dibuat harus menyertarkan label peringatan untuk mencegah kecelakaan yang mungkin terjadi akibat salah dalam penggunaan produk.
b.      Tanggung jawab dalam pelaksanaan penjualan
Sebuah perusahaan harus menyertakan petunjuk pelaksanaan bagi karyawan bagian penjualannya, agar tidak terlalu agresif atau melakukan promosi yang tidak benar.
c.       Peranan konsumerisme
Konsumerisme adalah kumpulan permintaan oleh konsumen dimana perusahaan memuaskan kebutuhannya. Sekumpulan orang yang peka dengan hal inni telah memotivasi perusahaan untuk memenuhi tanggungjawabnya terhadap konsumen.
d.      Peranan pemerintah
Pemerintah juga bisa sangat peduli terhadap kepentingan konsumen untuk memastikan bahwa perusahaan telah memenuhi tanggung jawab terhadap konsumen. Aturan-aturan yang mungkin dikeluarkan pemerintah dalam hal ini adalah:
·         Aturan pemerintah dalam keamanan produk
·         Sebagai contoh, BPOM dan FDA(USA)
·         Aturan pemerintah dalam hal periklanan
·         Aturan pemerintah dalam persaingan industri
·         Memonitor keluhan konsumen
·         Mendapatkan dan memanfaatkan feedback dari konsumen
e.       Tanggung jawab terhadap karyawan
Tanggung jawab perusahaan meliputi keamanan karyawan, perlakuan yang baik dan manusiawi dari karyawan yang lain, kesempatan yang sama dan tanggung jawab untuk memuaskan karyawan.
f.       Tanggung jawab terhadap pemegang saham
Perusahaan bertanggung jawab untuk memuaskan pemilik saham. Perusahaan juga harus berusaha untuk menyakinkan para pemegang saham bahwa dana yang mereka tanamkan telah digunakan secara tepat.
g.      Tanggung jawab terhadap kreditor
Tanggung jawab perusahaan adalah memenuhi kewajiban keuangan perusahaan terhadap kreditor. Selain itu perusahaan juga harus selalu menginformasikan kondisi keuangan perusahaan kepada kreditornya.
h.      Tanggung jawab terhadap lingkungan
Tanggung jawabnya adalah berupaya untuk tidak merusak lingkungan dan menjaga kelestarian lingkungan baik udara, air maupun tanah.
i.        Tanggung jawab terhadap masyarakat
Perusahaan selalu dituntut untuk selalu memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat sekitar perusahaan. Misalnya memberikan beasiswa, merekrut tenaga kerja dari masyarakat sekitar lokasi perusahaan dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA
Sukardi, Paulus; Sari, Evi Thelia; BISNIS INTERNASIONAL; sebuah Perspektif kewirausahaan/Paulus Sukardi, Evi Thelia Sari – Edisi Pertama – Yogyakarata; Graha Ilmu, 2007

Manajemen Ritel

thumbnail
BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Bisnis Ritel

Dalam kamus Bahasa Inggris – Indonesia, Retail bisa juga diartikan sebagai “Eceran”. Pengertian retailing adalah semua aktivitas yang mengikut sertakan pemasaran barang dan jasa secara langsung kepada pelanggan. Pengertin retailer adalah semua organisasi bisnis yang memperoleh lebih dari setengah hasil penjualannya dari retailing. Jadi retail adalah semua usaha bisnis yang secara langsung mengarahkan kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen akhir berdasarkan organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari distribusi. Sedangkan manajemen ritel adalah pengaturan keseluruhan faktor – faktor yang berpengaruh dalam proses perdagangan ritel, yaitu perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen.

Pada saat ini bisnis ritel telah mengalami perubahan, yaitu terjadi peralihan dari konsep toko – toko lokal yang independen atau toko – toko di jalan utama menjadi situasi toko berskala nasional dan internasional dalam bentuk pusat – pusat perbelanjaan yang modern, supermarket, pasar swalayan, toko serba ada dan sebagainya. Dalam pengelolaan bisnis ritel tidak sekedar hanya membuka toko dan mempersiaplan barang – barang yang lengkap, namun lebih dari itu. Pengelolaan bisnis ritel harus melihat dan
mengikuti perkembangan teknologi pemasaran agar dapat berhasil dan mempunyai keunggulan bersaing (Usaman Thoyib, 1998).
2.2  Struktur Dasar Bisnis Ritel
Saat ini telah terjadi perubahan yang sangat signifikan baik pola pikir, selera maupun pola berbelanja masyarakat luas, khususnya konsumen, dari pola yang berkecenderung tradisional ke pola berkecenderungan modern. Hal ini dapat terlihat jelas, salah satu indikatornya banyak berdiri bisnis – bisnis ritel yang lokasinya sangat berdekatan dengan masyarakat, dan bukan lagi di jalan raya atau jalan utama.
Adapun struktur dasar bisnis ritel secara sederhana yang merupakan jalur distribusi barang dagangan dapat digambarkan sebagai berikut:











 


Produsen menjual produknya kepada pelaku ritel atau pedagang besar (peritel besar), disebut juga grosir. Selanjutnya pedagang besar membeli, menyimpan persediaan, mempromosikan, memajang, menjual, mengirimkan, dan membayar kepada produsen. Mereka biasanya tidak menjual langsung ke konsumen. Sedangkan pelaku ritel menjalankan fungsi pembelian, menyimpan persediaan, mempromosikan, menjual, mengirimkan, dan membayar kepada agen atau distributor. Ritel tidak membuat barang dan tidak menjual kepada pelaku ritel lainnya (C.W. Utami, 2006).
2.3  Konsep Pemasaran Ritel
Menurut Wal Mart dikutip Usman Thoyip (1998) telah memanfaatkan suatu pendekatan yang terkoordinasi dan merata di seluruh perusahaan terhadap perkembangan dan implementasi strategi dan memiliki suatu orientasi tujuan yang jelas. Berikut ini gambar konsep pemasaran ritel: 

 


Keterangan:
o  Berorientasi konsumen, seorng peritel harus menetukan atribut-atribut dan kebutuhan-kebutuhan para konsemennya, serta harus menyediakan diri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut secara maksimal.
o  Usaha yang terkoordinir, di mana seorang peritel harus mengintegrasikan semua rencana dan kegiatan untuk melakukan efisiensi.
o  Berorientasi tujuan, di mana seorang peritel harus menetapkan tujuan dan selanjutnya mengunakan strateginya untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
2.4  Karakteristik Bisnis Ritel
Menurut Berman dan Evans 9dikutip Asep S.Sujana, 2005) ada beberapa karakteristik bisnis ritel sebagai berikut:
o  Small Enough Quqntity
Penjualan barang atau jasa pada karakteristik ini dalam partai kecil yaitu jumlah secukupnya untuk dikonsumsi sendiri dalam waktu tertentu
o  Impulse buying
Dalam karakteristik ini, kondisi yang tercapai dari ketersediaan barang dalam jumlah dan jenis yang sangat variatif sehingga menimbulkan banyaknya pilihan dalam proses belanja konsemen. Sering kali konsumen dalam proses pembeliannya, keputusan yang diambil untuk menbeli suatu barang adalah yang sebelumnya tidak tercantum dalam pembelian barang. Keputusan ini timbul begitu saja terstimulasi oleh variasi bauran produk dan tingkat harga barang yang ditawarkan.
o  Store condition
Pada karakteristik ini, dipengaruhi oleh lokasi toko, efektivitas penanganan barang, jam buka toko, dan tingkat harga yang bersaing. Menurut Asep S.Sujana (2005) aspek-aspek internal bisnis ritel terdiri atas asset, human, finande, dan merchandise.

2.5  Jenis-jenis Bisnis Ritel
Sektor ritel adalah salah satu segmen dengan tingkat pertumbuhan paling cepat di banyak negara termasuk inonesia. Sebagaian besar peritel meliputi penjualan barang atau jasa dari pihak pembuat, penjualan grosir/partai besar, agen, importir, atau peritel lainnya dan penjualannya kepada konsumen untuk penggunaan pribadi. Berikut ini bisnis ritel:
1.    Ritel toko
Situasi ritel masa kini terdiri dari berbagai macam toko independen, pusat perbelanjaan, perusahaan diskon, toko pengecer yang menawarkan kenyamanan berbelanja, jaringan peritel nasional maupun internasional, supermarket konvensional dan perusahaan-perusahaan lain dengan skala yang lebih besar. Semua ini tampak mendominasi sektor ritel. Peritel toko beroperasi di lokasi-lokasi penjualan yang didesain untuk menarik konsumen dalam jumlah yang cukup besar agar mau berkunjung ke toko mereka. Pada umumnya toko-toko memamerkan barang jualan secara maksimal dan menggunakan iklan dibanyak media massa untuk menarik sebanyak mungkin konsumen. Mereka ini biasanya menjual barang dagangan kepada masyarakat umum atau konsumen rumah tangga tetap sebagian juga melayani klien institusi dan bisnis. Ini meliputi bangunan-bangunan seperti toko-toko alat tulis kantor, toko komputer dan softwere, dealer bahan bangunan, seperti usaha ledeng dan toko-toko alat tulis.


2.    Ritel khusus
Sementara peritel raksasa seperti Wal-Mart atau Carrefour cenderung untuk menjual barang-barang kebutuhan pokok, para peritel ini cenderung menjual barang-barang sekunder atau tersier. Mereka berfokus pada peningkatan kenyamanan lingkungan rumah tangga, kekayaan pengalaman dalam berbelanja, dan inventaris yang memenuhi kebutuhan pelanggan yang menjadi target dengan frekuensi yang bisa disesuaikan.
Banyak toko bisa dimiliki dan dijalankan oleh satu orang dengan bantuan yang seadanya. Dibandingkan dengan pengoperasian manufaktur, bisnis ritel khusus relatif lebih mudah dibangun pada awalnya baik secara keuangan dan pengelolaan. Namun usaha yang buruk dan analisis pasar yang tidak memadai.
3.    Peritel non-toko
Bisnis-bisnis ini sebagian besar berkaitan dengan penjualan ritel produk melalui TV, belanja elektronik, kertas dan katalog elektronik, pengundangan dari pintu ke pintu, demonstrasi dalam rumah, kios portabel, mesin pengecer, dan pemesanan via pos. Dengan penjualan eceran di tepi jalan sebagai pengecualian, bisnis-bisnis ini tidak biasanya mempertahankan saham untuk dijual dengan premis. Ada begitu banyak manfaat yang bisa dituai dari ritel ini.
4.    Pemesanan via pos
Dari buku hingga brosur dasar, katalog sudah banyak dikenal bagi mereka yang tinggal jauh dari keramaian pusat perbelanjaan. Katalog juga akrab bagi para manula. Mereka yang suka barang/jasa yang tidak dijual bebas atau memiliki spesifikasi yang kurang lazim, dan bagi orang-orang yang kurang suka berbelanja berdesakan. Dengan pemesanan via pos, katalog berisi barang yang dijual bisa dikirimkan ke ribuan pembeli potensial pada satu waktu untuk menaikkan angka penjualan atau penghasilan konsumen yang rill. Perusahaan pemesanan via pos termasuk bisnis barang jualan, perusahaan yang menjual barang-barang khusus dengan banyak variasi, perusaahaan yang menjual benda-benda baru, berbagai jenis klub (CD, DVD, buku) dan sebagainya.
5.    Internet
Internet sudah mengubah kondisi industri ritel masa kini, menghubungkan perusahaan dengan perusahaan lain dan pasar lain serta pelanggan individu. Peritel yang tidak memahami dampak internet pada tokonya dan saluran katalognya berpeluang untuk meremehkan investasi di internet.
6.    Mesin Pengecer otomatis
Mesin pengecer otomatis telah menjadi konsep bisnis yang terbukti ampuh selama lebih dari satu abad. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, kudapan dan soda meraup angka penjualan lebih dari 20 miliar dollar di tahun 1999.

Jika dirinci, ada empat jenis bisnis rite, yaitu: 1) berdasarkan kepemilikan bisnis, 2) berdasarkan kategori barang dagangan, 3) berdasarkan luas area penjualan, dan 4) berdasarkan peritel tanpa toko.
1.    Jenis bisnis ritel berdasarkan kepemilikan bisnis
a.    Toko waralaba
Toko waralaba atau franchise store adalah toko ritel yang dibangun berdasarkan kontrak kerja bagi hasil (waralaba) antara pengusaha investor perseorangan dengan pewaralaba yang merupakan pemegang lisensi/nama toko, sponsor, dan pengelola usaha, seperti fast food restaurant, bengkel, toko optikal atau supermarket (McDonald’s, indamart, Alfamart).
b.    Rantai toko ritel
Jenis ini merupakan toko ritel dengan banyak cabang dan pada umumnya dimiliki oleh suatu instansi bisnis bukan perorangan, namun dalam bentuk perseroan. Bentuknya seperti rantai toko minimarket atau mega hJenis ini merupakan toko ritel dengan banyak cabang dan pada umumnya dimiliki oleh suatu instansi bisnis bukan perorangan, namun dalam bentuk perseroan. Bentuknya seperti rantai toko minimarket atau mega hyperstore, misalnya Hero supermarket, Sogo Departement Store & Supermarket, Matahari Mall, Ramayana Mall, dan sebagainya.
c.    Peritel toko tunggal
Peritel toko tunggal (single store retailer) merupakan jenis bisnis ritel yang paling banyak jumlahnya dengan ukuran toko umumnya di bawah 100 m², mulai dari kios atau toko di pasar tradisional sampai minimarket modern dan kepemilikan secara individual.

2.    Jenis bisnis ritel berdasarkan kategori barang dagangan
Jenis bisnis ini meliputi toko khusus, toko serba ada, departement store, dan hyperstore.
a.    Toko khusus
Toko khusus (speciality store) merupakan toko ritel yang menjual satu jenis barang atau suatu rentang kategori barang yang relatif sedikit, misalnya apotik, art shop, toko perhiasan dan toko buku.
b.    Toko serba ada
Grocery store toko ritel yang menjual sebagian besar kategori barangnya yaitu barang kebutuhan sehari-hari, frest food, dan cosmetic.
c.    Departement store
Pada jenis ini sebagian besar assortments yang dijual merupakan non basic items atau bukan kebutuhan pokok, fashionables, dan branded items atau bermerek, dengan lebih dari 80% pola konsinyasi, item-item grocery jika dijual hanya sebagai pelengkap, misalnya di Ramayana Mall, Borobudur, Pasaraya, dan sebagainya.
d.   Hyperstore
Jenis bisnis ritel ini menjual barang-barang dalam rentang kategori barang yang sangat luas yaitu menjual sebagian besar barang kebutuhan setiap lapisan konsumen, sehingga sedikitnya membutuhkan luas toko dan area sebesar 10.000 m² dan di Indonesia belum ada seluas ini.


3.    Jenis bisnis ritel berdasarkan luas area penjualan
a.    Small store adalah toko kecil, seperti kios, yang pada umumnya merupakan toko ritel tradisional, dioperasikan sebagai usaha kecil dengan sales area kurang 100 m².
b.    Minimarket, dioperasikan dengan luas area antara 100 s/d 1.000 m².
c.    Supermarket, dioperasikan dengan luas sales antara 1.000 s/d 5.000 m².
d.   Hypermarket, dioperasikan dengan luas sales area lebih dari 5.000 m².
4.    Jenis bisnis ritel berdasarkan peritel tanpa toko
Jenis bisnis ritel ini meliputi multi level marketing (MLM), mail & phone order ritel, dan internet/online store/e-commerce.
a.    MLM, merupakan suatu model penjualan barang secara langsung dengan sistem komisi penjualan berperingkat berdasarkan status keanggotaan dalam peringkat distribusi.
b.    Mail & phone order ritel, merupakan perusahaan yang melakukan penjualan berdasarkan pesanan melalui surat dan atau telepon. Prinsip dari perusahaan ini mengkompensasikan overhead cost pengoperasian sebuah toko (secara fisik) dengan pengoperasian delivery services.
c.    Internet/online store/e-commerce, merupakan suatu model penjualan barang yang melakukan penjualan berdasarkan pesanan melalui internet.


2.6  Fungsi, Kelebihan, dan Kekurangan Bisnis Ritel
Bisnis ritel ini merupankan kegiatan yang terkait dengan penjualan atau pelanggan barang, jasa ataupun keduanya. Penjualan atau pelanggan ini dilakukan secara sedikit-sedikit atau satu-satu langsung kepada konsumen akhir untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga ataupun rumah tangga. Bahkan peritel ini juga bisa digunakan untuk keperluan bisnis atau untuk dijual kembali. Bisnis ritel tidak hanya berfokus pada penjualan barang seperti sabun, minuman, deterjen, dan lain-lain. Penjualan ritel juga dapat mencakup layanan jasa seperti potong rambut, cuci pakaian, penyewaan mobil dan sepeda motor, penyewaan perawatan musik dan panggung pertunjukan, dan lain-lain. Bisnis ritel pun tidak harus selalu dilakukan di sebuah toko namun dapat juga dilakukan melalui telepon dan internet yang dapat disebut non-ritel. Berikut ini fungsi, kelebihan, dan kelemahan bisnis ritel:
1.    Fungsi Bisnis Ritel
o  Melakukan kegiatan bisnis di lokasi yang nyaman dan mudah untuk diakses oleh pelanggan, seperti daerah rumah-rumah penduduk, lingkungan sekolah dan sebagainya.
o  Memberikan beragam produk, sehingga pelanggan dapat memilih produk yang diinginkan.
o  Membagi produk yang besar sehingga dapat menjual produk tersebut dalam kemasan kecil.
o  Mengubah produk menjadi bentuk yang menarik.
o  Menyimpan produk agar dapat menyediakan produk untuk pelanggan dengan harga yang relatif tetap.
o  Membantu produsen untuk memindahkan kepemilikan dari produsen kepada konsumen yang dalam hal ini melalui proses jual beli.
o  Mengakibatkan perpindahan barang melalui sistem distribusi.
o  Memberikan informasi baik itu kepada pelanggan maupun ke pemasok barang.
o  Memberikan jaminan produk yang dijual, layanan purna jual, dan ikut serta dalam penanganan keluhan dari pelanggan.
o  Memberukan fasilitas kredit atau sewa, contohnya jasa penyewaan mobil yang menyediakan fasilitas perkreditan laptop kepada pelanggannya dan masih banyak lagi.

Fungsi bisnis ritel ini tidak hanya bermanfaat bagi para produsennya melainkan juga para pelanggan yang bisa membeli produk dalam usaha skal yang lebih kecil.
2.    Kelebihan Bisnis Ritel
Kelebihan bisnis ritel antara lain:
o  Modal yang diperlukan cukup kecil namun keuntungan yang didapat bisa cukup besar, bahkan keuntungan yang didapat bisnis ritel ini hampir melebihi modal yang dikeluarkan para pengecer.
o  Pada umumnya lokasi bisnis ritel ini sangat strategis sehingga memudahkan pelanggan untuk mendapatkan kebutuhan barangnya.
o  Hubungan antara peritel dan pelanggan sangat dekat, hal ini dikarenakan terjadinya komunikasi dua arah antara peritel dan pelanggan.
Kelebihan-kelebihan ini sering menjadi peritel cepat berkembang pesat dalam pengembangan tokonya.
3.    Kekurangan Bisnis Ritel
o  Pengelolaan toko ritel dengan skala kecil sering mendapat kurang perhatian dari peritel itu sendiri.
o  Administrasi atau pembukuan dalam bisnis ritel ini kurang atau bahkan tidak diperhatikn.
o  Promosi bisnis ritel sering dilakukan secara tidak optimal.
2.7  Faktor sukses menjalankan Bisnis ritel
Sebagai pemilik bisnis ritel, keberhasilan tergantung pada bagaimana menjalankan bisnis sesuai dengan aturan dan memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi. Bisnis ritel tidak akan sukses kecuali memenuhi berbagai perubahan yang terjadi dalam menjalankan bisnis. Tentunya diperlukan kemampuan-kemampuan manajemen yang baik dalam mengelola sebuah bisnis. Selain itu, harus mempunyai beberapa faktor di bawah ini:
1.    Kegigihan, sebagai pemilik bisnis ritel, harus ulet, bertahan dalam menghadapi rintangan serta mempunyai kemampuan berfikir yang luas.
2.    Kreativitas, harus kreatif dalam mengembangkan dan memasarkan produk serta mencari cara untuk menjalankan perusahaan dengan baik dengan menggunakan sumber daya yang diinginkan.
3.    Praktis dan realistis, sebagai seorang pengusaha, harus memiliki pemahaman yang realistis dari aspek keuangan dalam menjalankan perusahaan, seorang pengusaha juga harus mampu mengevaluasi data keuangan perusahaan dengan praktis dan objektif.
4.    Pendanaan, dalam rangka menunjang keberhasilan sebagai pemilik bisnis kecil, harus memiliki akses modal yang cukup untuk mempertahankan bisnis. Karena perusahaan begitu sedikit mencetak laba pada awalnya, kemungkinan akan harus mencari uang dari beberapa sumber lain selama face awal operasi bisnis anda. Beberapa pemilik usaha kecil menggunakan dana pribadi, mengandalkan pinjaman bank, dan sumber lainnya. Untuk sumber dana pinjaman, pastikan bunganya tidak terlalu besar sehingga mampu mengelolanya.

2.8  Kesalahan-kesalahan dalam bisnis
Dunia intrepreneurship penuh dengan salah langkah, kecelakaan dan kesalahan. Tidak peduli seberapa besar pengalaman anda dalam berbisnis, anda seakan-akan terikat untuk mengalami masalah di beberapa titik. “kunci keberhasilan anda adalah untuk dengan cepat mengidentifikasi kesalahan-kesalahan anda, belajar dari kesalahan tersebut, dan mencegah kesalahan yang sama terjadi lagi” kata Mike Michalowicz, pakar small business seperti dikutip laman Inilah.com dari CNBC. Jadi, apa kesalahan terbesar yang dibuat pemilik ketika memulai dan mengelola bisnis ritel (bisnis kecil) mereka?
1.    Mencoba untuk mendapatkan kekayaan dengan cepat
Kesuksesan biasanya membutuhkan waktu 15 sampai 20 tahun untuk mencapainya. Jika mengharapkan untuk menjadi kaya dalam semalam, anda mungkin menjadi berkecil hati dari awal dan menyerah untuk impian anda sebelum waktunya.
2.    Mengasumsikan tidak memiliki pesaing
Bahkan jika anda memiliki yang terbaru, terbesar, yang tidak pernah dilakukan sebelum pendekatan untuk sesuatu, tidak berasumsi bahwa anda tidak memiliki persaingan. Kompetisi adalah lebih dari sekadar langsung, pesaing jelas. Persaingan juga semua alternatif yang tersedia. Apa lagi yang bisa konsumen lakukan daripada menggunakan produk atau jasa anda? Dapatkah mereka melakukan sesuatu? Pelanggan hampir selalu memiliki pilihan untuk berjalan kaki. Itu daja merupakan ancaman kompetitif yang serius.
3.    Menjadi pemimpin yang lemah
Kesuksesan perusahaan anda tergantung pada anda untuk menjadi pemimpin, seorang efektif yang kuat. Ini tidak berarti anda tidak harus menjadikan semua teman. Seorang pemimpin besar menetapkan kursus untuk perusahaan, berkomunikasi terus-menerus, dan menginspirasi tim untuk mendapatkan ke tingkat berikutnya.
4.    Menjadikan semua bisnis setiap saat
Banyak pengusaha menetapkan kehidupan pribadi meraka ditahan untuk fokus secara eksklusif pada bisnis mereka. Pada akhirnya, keduanya menderita. Tidak ada pertanyaan tentang bisnis anda yang membutuhkan perhatian  penuh dan usaha. Tetapi hanya dalam ledakan singkat.
5.    Menetapkan tujuan keuangan dengan tidak realisis
Jika semua rencana bisnis menjadi kenyataan, menjadi miliarder akan tidak sesuatu yang luar biasa. Banyak pengusaha memasuki kembali astronomi perencanaan baru. Tapi kebanyakan bahkan tidak hanya menyakiti kredibilitas anda, tetapi juga dapat menguras emosi. Terapkan tujuan spesifikasi, terukur, akuntabel spesifikasi, realistis, dan waktu (atau SMART) untuk memastikan kemajuan yang berkelanjutan.
6.    Tidak memiliki ‘titik penggalangan’
Ada alasan mengapa karyawan meninggalkan pekerjaan berbagi tinggi unutk memulai lagi dan itu bukan untuk uang. Masyarakat dianjurkan untuk melayani tujuan penting, di samping gaji. Banyak perusahaan tidak pernah menetapkan tujuan untuk keberadaan mereka yang sesungguhnya, dan terus–menerus menarik karyawan yang mencari sukses dengan cara yang berbeda. Memperjelas tujuan perusahaan anda, lebih dari sekedar menghasilkan uang, dan anda mengatur panggung untuk menarik karyawan yang berfikir sama.
7.    Memotong harga
Sering kali, hal pertama yang pengusaha resor ketika bisnis yang sulit adalah mencoba untuk membedakan harga. Harga yang lebih murah berarti lebih banyak pelanggan, kan? Salah! Kebanyakan pelanggan bersedia untuk membeli barang-barang lebih mahal kerena kualitas yang lebih besar atau menambah kenyamanan. Pemotongan harga adalah permainan berbahaya, yang dapat menyebabkan karyawan atau pemotongan gaji untuk menjaga harga turun.
8.    Tidak memiliki strategi pemasaran yang jelas
Perusahaan anda harus menyajikan pesan, konsisten yang jelas di semua lini. Anda tidak akan pernah mendapatkan kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama. Pastikan setiap prospek baru melihat bisnis anda untuk pertama kali menerima pesan, yang konsisten sama.
9.    Tidak jujur
Jika bisnis anda sedang mencoba untuk menutup kesalahan, itu hanya soal waktu sebelum bocor dan anda diberi label pembohong. Itu tidak baik bagi bisnis.
10.    Mencoba untuk melakukan semua
Kesalahan terbesar yang dibuat pengusaha adalah percaya bahwa mereka dapat melakukan semuanya sendiri. Sementara pengusaha dapat melakukan hampir segalanya, yang mereka lakukan hampir semua buruk. Sama seperti orang lain, majikan memiliki satu atau dua bakat alami. Sebagai seorang pengusaha, itu adalah tugas anda untuk mengidentifikasi bakat dan fokus pada mereka untuk anda sepenuhnya. Kililingi diri anda dengan orang-orang yang kuat dimana anda berada bakat terlemah. Perusaan besar dibangun atas dasar memanfaatkan kekuatan ganda, daripada mencoba untuk menjadi tuan atas segalanya.

2.9  Penyebab pelanggan meninggalkan bisnis ritel
Dalam bisnis ritel, Customer service menjadi satu poin penting yang harus diperhatikan, agar pelanggan bisa kembali datang ke toko kita. Seperti melatih SDM agar bisa memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Belajar memahami kemauan pelanggan, menciptakan loyalty program, sampai bagaimana menghadapi pelanggan yang tidak puas. Setidaknya ada lima yang bisa menyebabkan pelanggan kabur antara lain:
1.    Salah menentukan harga
2.    Buruknya pelayanan
3.    Suasana toko yang kurang mendukung
4.    Tidak mengetahui persaingan
5.    Kurang memahami produk yang dijual.